Keamanan lingkungan sekolah merupakan prioritas utama dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif. Menyadari posisi geografis Indonesia yang berada di wilayah cincin api, kesiapsiagaan terhadap bencana alam menjadi materi yang tidak bisa ditawar lagi. Melalui program SMP Adikirma Siaga Pembelajaran Mitigasi Gempa & Kebakaran untuk Siswa, sekolah ini mengambil langkah proaktif dalam membekali seluruh warga sekolah, terutama para siswa, dengan pengetahuan dan keterampilan praktis. Program ini dirancang bukan hanya sebagai tambahan kurikulum, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab institusi pendidikan dalam menjamin keselamatan jiwa di lingkungan akademis.
Pendidikan mengenai keselamatan dimulai dengan Pembelajaran Mitigasi Gempa yang terintegrasi. Mahasiswa dan tenaga pendidik di SMP Adikirma menyadari bahwa teori saja tidak cukup untuk menghadapi situasi darurat. Oleh karena itu, sekolah menyusun modul khusus yang menjelaskan secara mendalam mengenai karakteristik bencana yang paling mungkin terjadi di lingkungan perkotaan. Pembelajaran ini mencakup pengenalan tanda-tanda awal bencana, pemetaan titik kumpul yang aman, serta prosedur evakuasi yang harus dilakukan tanpa rasa panik. Pemahaman dini ini sangat penting agar siswa memiliki insting penyelamatan diri yang tajam sejak dini.
Fokus utama dari kegiatan ini adalah kesiapan menghadapi ancaman gempa & kebakaran yang sering kali terjadi secara tiba-tiba. Untuk bencana gempa bumi, siswa diajarkan teknik “drop, cover, and hold on” sebagai langkah perlindungan pertama saat guncangan terjadi. Sementara untuk ancaman kebakaran, sekolah bekerja sama dengan dinas pemadam kebakaran untuk memberikan edukasi mengenai penggunaan alat pemadam api ringan (APAR) dan teknik evakuasi saat ruangan dipenuhi asap. Pengetahuan teknis seperti ini memberikan rasa percaya diri kepada siswa bahwa mereka memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri dan membantu rekan sejawat jika situasi buruk terjadi.
Keberhasilan program ini sangat bergantung pada keterlibatan aktif dari seluruh siswa. Mereka tidak hanya menjadi objek pembelajaran, tetapi juga dilatih untuk menjadi duta keselamatan di lingkungan rumah masing-masing. Melalui berbagai simulasi rutin, siswa diajak untuk mempraktikkan jalur evakuasi yang telah ditetapkan sekolah. Simulasi ini dilakukan secara berkala dan tanpa pemberitahuan sebelumnya untuk menguji sejauh mana kesiapan dan ketenangan siswa dalam merespons alarm darurat. Dengan pembiasaan seperti ini, budaya sadar bencana akan terbentuk secara alami dalam karakter setiap individu di sekolah.
