Pada akhirnya, pihak yang paling dirugikan dari dualisme organisasi adalah para atlet dan pelatih. Mereka menjadi tumbal dari perebutan kekuasaan yang tidak produktif, tanpa kejelasan masa depan karier mereka. Dedikasi dan kerja keras mereka terancam sia-sia karena konflik internal yang seharusnya tidak mereka pikul.
Atlet yang seharusnya fokus berlatih dan berprestasi justru diliputi kecemasan tentang masa depan mereka. Program latihan terganggu, event dibatalkan, dan dukungan finansial terhambat. Semua ketidakpastian ini dapat menghancurkan motivasi, bahkan membuat mereka memutuskan untuk berhenti dari olahraga yang dicintai.
Para pelatih juga berada dalam posisi sulit. Mereka tidak bisa menyusun program jangka panjang atau merencanakan strategi efektif jika tidak ada kepemimpinan yang stabil. Kondisi ini membuat masa depan profesi mereka tidak menentu, bahkan bisa berujung pada pemutusan hubungan kerja.
Ketidakpastian masa depan ini sangat merugikan potensi olahraga nasional. Bakat-bakat muda yang seharusnya bisa berkembang menjadi atlet kelas dunia justru layu sebelum waktunya. Sumber daya manusia yang berharga ini terbuang percuma karena konflik internal yang tidak terselesaikan.
Energi dan waktu yang seharusnya dialokasikan untuk pengembangan atlet dan pelatih malah terkuras untuk menyelesaikan perselisihan. Ini adalah investasi yang buruk bagi masa depan olahraga. Dana yang seharusnya untuk pembinaan, habis untuk biaya hukum dan administrasi konflik.
Situasi ini juga bisa memicu brain drain, di mana atlet atau pelatih berbakat mencari kesempatan di negara lain yang lebih stabil. Mereka tidak melihat adanya masa cerah di tanah air, sehingga memilih untuk berkarier di lingkungan yang lebih mendukung dan profesional.
Penting bagi semua pihak yang bertikai untuk menyadari bahwa atlet dan pelatih adalah aset paling berharga. Menyelamatkan mereka harus menjadi prioritas utama di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Rekonsiliasi dan fokus pada tujuan bersama adalah satu-satunya jalan keluar.
Singkatnya, atlet dan pelatih adalah korban utama dari dualisme organisasi, kehilangan kejelasan karier mereka. Konflik internal ini menghambat perkembangan, merusak motivasi, dan menyebabkan kerugian besar bagi potensi olahraga nasional. Prioritaskan mereka demi masa depan yang lebih cerah.
